Daging beku adalah komoditas penting dalam industri pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tidak dapat dicukupi oleh produksi lokal. Agar kualitas tetap terjaga dari importir hingga konsumen, diperlukan sistem rantai pasok yang terencana dan terkontrol ketat.
Artikel ini membahas proses detail mulai dari tahap impor, penyimpanan, distribusi, hingga penjualan ke konsumen akhir.
1. Tahap Impor Daging Beku
1.1 Pemilihan Sumber dan Negosiasi
Importir memilih pemasok dari negara penghasil seperti Australia, Selandia Baru, atau Amerika Serikat. Kriteria utama mencakup:
- Sertifikasi halal
- Standar keamanan pangan
- Konsistensi kualitas dan pasokan
1.2 Proses Ekspor-Impor
- Daging diproses dan dibekukan di negara asal menggunakan teknologi blast freezing.
- Produk dimuat dalam kontainer reefer (berpendingin) dengan suhu -18°C atau lebih rendah.
- Dokumen ekspor-impor mencakup sertifikat kesehatan, sertifikat halal, dan dokumen bea cukai.
2. Transportasi Internasional
Daging beku dikirim melalui kapal kargo atau pesawat kargo khusus pendingin. Kontainer reefer dilengkapi sistem pemantauan suhu real-time untuk memastikan cold chain tidak terputus selama perjalanan, yang biasanya memakan waktu 7–30 hari tergantung jarak negara asal.
3. Proses di Pelabuhan dan Bea Cukai
- Setelah tiba di pelabuhan, kontainer masuk proses pemeriksaan dokumen dan fisik oleh karantina hewan.
- Petugas memastikan suhu selama pengiriman tetap sesuai standar.
- Setelah lolos, kontainer dibawa ke fasilitas cold storage importir.
4. Penyimpanan di Cold Storage Importir
Cold storage berfungsi sebagai pusat penyimpanan utama sebelum distribusi.
Standar penyimpanan:
- Suhu: -18°C atau lebih rendah
- Penataan stok menggunakan sistem FIFO (First In First Out)
- Pengawasan rutin terhadap suhu dan kelembapan
5. Distribusi ke Distributor & Retail
5.1 Transportasi Lokal
Menggunakan truk berpendingin untuk memastikan daging tetap beku selama perjalanan ke distributor atau retail.
Truk dilengkapi alat pencatat suhu (temperature logger).
5.2 Penyaluran ke Berbagai Segmen Pasar
- Distributor besar → memasok hotel, restoran, katering (Horeka)
- Retail modern → supermarket, minimarket
- E-commerce & marketplace → penjualan langsung ke konsumen
6. Penyimpanan di Retail
Retail menyimpan daging beku di freezer display atau cold storage dengan suhu -18°C. Produk dilabeli dengan:
- Tanggal produksi & kedaluwarsa
- Jenis potongan daging
- Informasi asal-usul dan sertifikasi
7. Penjualan ke Konsumen
Konsumen dapat membeli langsung di retail atau secara online. Dalam pengiriman online, daging dikemas dengan:
- Box pendingin (insulated box)
- Es kering (dry ice) atau ice gel
- Layanan pengiriman cepat (same day / next day)
8. Kontrol Kualitas di Sepanjang Rantai Pasok
- Pemeriksaan suhu di setiap titik
- Audit pemasok secara berkala
- Pelatihan SDM untuk penanganan produk beku
- Penggunaan teknologi IoT untuk pelacakan posisi dan suhu produk
9. Tantangan dalam Rantai Pasok Daging Beku
- Gangguan Cold Chain → dapat merusak kualitas dan keamanan daging
- Biaya logistik tinggi → karena memerlukan fasilitas pendingin
- Regulasi ketat → terkait keamanan pangan dan sertifikasi
- Fluktuasi permintaan → memengaruhi manajemen stok
10. Inovasi dalam Rantai Pasok Daging Beku
- IoT Monitoring → untuk melacak suhu dan posisi secara real-time
- Blockchain → untuk transparansi asal-usul produk
- Automated Storage & Retrieval System (ASRS) → efisiensi penyimpanan di cold storage
- E-commerce berbasis cold chain → pengiriman aman langsung ke rumah konsumen
Kesimpulan
Rantai pasok daging beku dari importir hingga konsumen memerlukan koordinasi dan pengendalian yang ketat di setiap tahap. Kualitas daging bergantung pada cold chain yang terjaga, pengelolaan logistik yang efisien, dan penerapan teknologi modern. Distributor, retailer, dan pelaku industri yang berinvestasi dalam sistem rantai pasok yang kuat akan mampu memberikan produk berkualitas tinggi kepada konsumen.




